Galeri

Kerancuan Manajemen Sistem Informasi dan Sistem Informasi Manajemen

Oleh: Nur Alam La Nafie

I.       PENDAHULUAN

Pengertian Manajemen Sistem Informasi (MSI)

Dalam pengelolaan organisasi, hal yang sangat penting adalah informasi karena setiap fungsi organisasi tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya informasi. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasi atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Pengolahan data untuk menghasilkan informasi adalah dengan menggunakan suatu system yang berbasis computer. Sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya. Agar memberikan hasil yang akurat dan cepat, system informasi perlu dikelola dengan baik. Untuk dapat mengelola system informasi dengan baik, fungsi-fungsi manajemen perlu diterapkan dengan baik. Pakar manajemen, Henry Fayol, mengemukakan bahwa manajer melakukan lima fungsi manajemen; pertama, manajer merencanakan (planning) apa yang akan mereka lakukan; kemudian manajer mengaturnya (organizing) agar sesuai dengan perencanaan tersebut, dilanjutkan dengan menemukan staf (staffing) yang tepat dan menyesuaikannya dengan sumber daya yang dibutuhkan; sumber daya ini kemudian diarahkan (directing) untuk melaksanakan perencanaan; terakhir, manajer harus melakukan pengendalian (controlling) sumber daya untuk memastikan semua berjalan sesuai jalurnya (McLeod dan Schell, 2011).

Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa MSI adalah ilmu yang mempelajari cara-cara mengelola pekerjaan informasi dengan menggunakan pendekatan sistem yang berdasarkan pada prinsip manajemen (Amsyah, 2005).

Pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan penerapan system informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen (Sutabri, 2005). Telah diketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi manajemen di dalam pengambilan keputusan. Dari mana informasi bisa didapat? Informasi dapat diperoleh dari system informasi. Sistem informasi didefinisikan sebagai suatu system di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

Perbedaan MSI dan SIM

Meskipun banyak orang yang masih simpang siur dengan perbedaan pengertian Manajemen Sistem Informasi (MSI) dan Sistem Informasi Manajemen (SIM), namun dari uraian di atas dapat dilihat perbedaan antara keduanya. Manajemen Sistem Informasi (MSI) lebih menekankan pada cara pengelolaan system informasi dengan penerapan fungsi-fungsi manajemen agar dapat menghasilkan informasi yang akurat dan cepat sementara Sistem Informasi Manajemen (SIM) lebih menekankan pada penerapan system untuk menghasilkan informasi bagi kebutuhan pihak manajemen pada semua tingkatan agar dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Arti Penting MSI

Amsyah (2005) mengatakan bahwa peran penting MSI adalah untuk menghasilkan informasi bagi keperluan manajerial dalam organisasi. Para manajemen memerlukan informasi yang akurat dan tepat waktu untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan dan ini dapat dihasilkan oleh adanya suatu manajemen system informasi (MSI). Pada dasarnya, MSI berkaitan dengan pengelolaan data menjadi informasi dan kemudian disampaikan kepada semua pihak yang membutuhkan dalam organisasi. Dengan adanya MSI, proses pengambilan keputusan akan lebih cepat sehingga mendukung tercapainya peningkatan produktifitas, efisiensi, dan efektifitas organisasi sehingga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif suatu organisasi (Husein & Wibowo, 2002).

  1. II.    ISU DAN PERMASALAH MSI

Isu dan permasalahan dalam manajemen system informasi (MSI) adalah bagaimana system informasi dikelola dengan baik agar dapat menghasilkan informasi yang akurat dan cepat untuk mendukung proses pengambilan keputusan bagi manajer pada semua tingkatan. Pengelolaan system informasi yang baik tentunya yang melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasi, staffing, dan pengendalian.

Perencanaan system informasi adalah sangat penting dilakukan untuk menghindari terjebaknya organisasai dalam menambah system baru yang tidak saling bersesuaian. Perencanaan system informasi menyangkut bagaimana menerapkan pengetahuan tentang system informasi ke dalam organisasi. Untuk dapat maju dan bersaing, organisasi harus berkembang sesuai dengan teknologi dan teori organisasi yang modern. System informaasi dapat dibentuk sesuai kebutuhan organisasi masing-masing. Oleh karena itu, untuk dapat menerapkan system informasi yang efektif dan efisien diperlukan perencanaan sesuai keinginan dan nilai masing-masing organisasi. Organisasi tidak boleh sekadar mengadaptasi setiap system yang ditawarkan, tetapi orang juga tidak boleh menutup mata terhadap ketidaktahuan dan kesempatan yang ada di luar organisasi untuk mendapatkan system yang cocok. System informasi yang efektif dan efisien tidak lain untuk mendapatkan keunggulan dalam kompetisi.

Untuk merencanakan system informasi yang tepat dan sesuai dengan organisasi masing-masing, harus diawali dengan adanya ide/gagasan yaitu bahwa organisasi mengetahui perlu adanya perubahan. Dari ide/gagasan itu, dikembangkan suatu design/rancangan cara pemecahan yang kemudian diterapkannya design/rancangan tersebut ke dalam system informasi. Perencanaan system informasi dapat meliputi rancangan system, penentuan teknologi yang digunakan, sumber daya manusia, komponen apa yang akan diperlukan di masa depan, bagaimana melakukannya, dan apa yang harus disediakan untuk melaksanakan aktifitas tersebut, dan tentunya biaya yang dibutuhkan.

Setelah perencanaan system informasi, pengorganisasian diperlukan untuk mengatur tugas dan tanggung jawab dalam penerapan system infornasi. Dalam pelaksanaan system informasi seperti yang telah tertuang dalam perencanaan system informasi harus didukung oleh sumber daya manusia yang handal. Pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya.

Pengorganisasian system informasi berkaitan dengan pengelompokan fungsi, pekerjaan dan tugas-tugas system informasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama dan juga berkaitan dengan pembagian kerja yang merupakan perincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk dan melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas.

Dalam penerapan manajemen system informasi, isu staffing tidak kalah pentingnya. Staffing (penyusunan personalia) merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi. Berkenaan dengan hal ini, orang-orang yang direkrut tentunya yang sesuai dengan syarat kebutuhan tenaga kerjanya yaitu yang menguasai persoalan system informasi. Beberapa jenis tugas dan pekerjaan yang dibutuhkan dalam penerapan system informasi adalah analis informasi, perancang system, pembuat program system, pembuat program aplikasi, pembuat program pemeliharaan, database administrator, operator computer, pustakawan, control clerk, dan termasuk perencana system informasi. Fungsi staffing bertugas dalam penarikan, penempatan, pemberian latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi sesuai dengan tugas-tugas pekerjaan tersebut.

System informasi tidak hanya direncanakan dan diorganisir pelaksanaannya, namun perlu pula dikendalikan agar tidak menyimpang dari perencanaannya. Pengendalian system informasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pengelolaan system informasi, bahkan ia melaksanakan fungsi yang sangat penting karena mengamati setiap tahapan dalam proses pengelolaan informasi. Pengendalian system informasi adalah keseluruhan kegiatan dalam bentuk mengamati, membina, dan mengawasi pelaksanaan mekanisme pengelolaan system informasi, khususnya dalam fungsi-fungsi perencanaan informasi, transformasi, organisasi, dan kordinasi. Pengendalian bertujuan menjamin kelancaran pelaksanaan pengelolaan dan produk-produk informasi, baik segi kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktunya. Pengendalian system informasi dilaksanakan melalui pengawasan dan pembinaan. Pengawasan dilakukan baik secara langsung yakni di tempat dilaksanakannya system informasi itu, maupun secara tak langsung melalui laporan-laporan secara tertulis dan secara lisan.

III. PERGESERAN PERAN DEPARTEMEN SISTEM INFORMASI

Peran Departemen Sistem Informasi Secara Konvensional

Dalam penerapan manajemen system informasi, departemen system informasi memegang peranan penting. Perusahaan pengguna system informasi memberikan tanggung jawab pengelolaan sumber daya informasi kepada satu unit khusus (departemen system informasi) yang terdiri dari para professional di bidang informasi. Unit ini bisa disebut sebagai Departemen Sistem Informasi, dikelola oleh seorang manajer yang mempunyai status setara dengan para direktur. Dalam praktek saat ini, pelayanan informasi ditetapkan sebagai area bisnis utama dimana manajernya merupakan manajer puncak, termasuk dalam grup eksekutif pilihan dan menjadi anggota komite yang membuat keputusan penting bagi perusahaan.

Seiring dengan berkembangnya system/teknologi informasi, beberapa perusahaan mulai mendesentralisasikan sumber daya informasinya dengan menempatkannya pada unit-unit bisnis dengan memberikan otoritas untuk memutuskan bagaimana penggunaan sumber daya informasi tersebut. Hal ini memberikan kesempatan kepada setiap unit bisnis yang ada dalam perusahaan untuk mempunyai staf sendiri (staf system/teknologi informasi). Staf ini akan bersama manajer unit bisnis dalam menentukan bagaimana sumber daya informasi yang ada dalam unit bisnis akan digunakan. Hal ini menunjukkan adanya pergesaran peran department system informasi yang sebelumnya berada pada level perusahaan, kemudian bergeser ke level unit bisnis. Ini dimaksudkan agar efisiensi dan efektifitas proses kerja dari system informasi dapat lebih meningkat.

Setelah pergeseran peran departemen system informasi dari level perusahaan ke level unit bisnis, ternyata banyak perusahaan besar menginginkan struktur organisasi “centrally decentralized” atau struktur sentral yang terdesentralisasi (McLeod, 2011). Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan kewenangan kepada departemen system informasi perusahaan untuk membuat keputusan yang bersangkutan dengan infrastruktur teknologi informasi, dan memberikan kewenangan kepada area bisnis untuk membuat keputusan mengenai strategi penggunaan teknologi informasi di area masing-masing.

Peran Departemen Sistem Informasi terkait EUC

Departemen system informasi berperan dalam mengembangkan system yang akan mendukung proses kerja bagi setiap orang dalam perusahaan. Namun demikian, seiring dengan kemajuan teknologi, tren penggunaan computer semakin meningkat. Tren ini menunjukkan semakin meningkatnya minat pengguna dalam mengembangkan aplikasi computer mereka sendiri. Tren pengembangan aplikasi oleh pengguna ini disebut end-user computing (EUC),  yaitu pengembangan  seluruh atau sebagian system berbasis computer oleh para pengguna. Dengan demikian, peran departemen system informasi tidak sendiri dalam proses pengembangan system tetapi juga dibantu oleh pengguna computer dari setiap departemen yang ada dalam perusahaan. Dalam banyak kasus, pengguna akan bergabung  dengan para ahli informasi dari departemen system informasi dan bekerja sama mengembangkan system. Karena itu, konsep EUC tidak berarti bahwa para ahli informasi dari departemen system informasi tidak dibutuhkan lagi. Sebaliknya, ini berarti bahwa para ahli informasi dari department informasi akan lebih banyak melaksanakan peran konsultasi.

Peran Departemen Sistem Informasi terkait Outsourcing

McLeod (2011) mengatakan bahwa departemen system informasi tingkat perusahaan membuat keputusan dengan infrastruktur teknologi informasi, dan memberikan kewenangan kepada area bisnis untuk membuat keputusan mengenai strategi penggunaan teknologi informasi di area masing-masing. Karena itu, department system informasi berperan dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhan teknologi informasi yang akan diselesaikan dengan “outsourcing” atau bantuan pihak eksternal sehingga dapat mengefisienkan pembiayaan dalam penerapan teknologi informasi.

Ketika organisasi perusahaan memutuskan untuk “outsourcing”, departemen teknologi informasi berperan untuk mengawasi pelaksanaannya agar dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan organisasi yang tertuang dalam kontrak kerja.

Tidak hanya mengawasi, departemen teknologi informasi juga berperan dalam memelihara (maintenance) dan mempertahankan hasil kerja dari “outsourcing”.

Peran Departemen SI terkait Isu Keputusan Membeli dari pada Membuat Keputusan

Dalam departemen system informasi, terdapat sekumpulan ahli informasi yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Perusahaan sebenarnya dapat memanfaatkan keahlian mereka dalam membuat perangkat lunak sesuai kebutuhan perusahaan. Namun demikian, bila kebutuhan sistem informasi sangat mendesak maka perusahaan dapat memutuskan untuk membeli saja perangkat lunak (software) yang sudah tersedia, dengan sedikit penyesuaian terhadap kebutuhan perusahaan. Jika ahli informasi yang dimiliki perusahaan tidak sanggup membuat perangkat lunak (software) kebutuhan perusahaan atau karena memerlukan biaya yang lebih besar daripada membeli, maka keputusan perusahaan adalah membeli saja.

Dalam hal ini, departemen system informasi berperan dalam mempertimbangkan risiko yang mungkin akan dihadapi jika perusahaan membeli perangkat lunak (software) sesuai kebutuhan perusahaan. Dengan demikian, departemen system informasi berperan dalam meminimalisir kesalahan dalam membeli sumber daya informasi. Selain itu, peran departemen system informasi juga menyangkut kemampuan dalam menyesuaikan software yang dibeli dengan kebutuhan sesungguhnya perusahaan karena seringkali system atau software yang dibeli tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Selain itu, masalah pemeliharaan perangkat lunak (software) yang dibeli harus menjadi tanggung jawab departemen system informasi.

IV. ISU DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Pengembangan system informasi memerlukan ketrampilan dan pengetahuan khusus. Ahli informasi menerapkan ketrampilan dan pengetahuannya secara professional dengan jam kerja penuh. Jenis pengetahuan yang memungkinkan seseorang berkontribusi dalam pengembangan system informasi adalah pemahaman computer, pemahaman informasi, dasar-dasar bisnis, teori system, proses pengembangan system, dan pemodelan system.

Dalam pengembangan system informasi, ahli informasi memerlukan pemahaman tentang dasar-dasar bisnis karena berhubungan dengan strategi kompetisi, Customer Relationship Management (CRM) dan Decision Making.

Telah banyak perusahaan yang menggunakan system informasi sebagai keunggulan berkompetisi. Karena itu dalam menetapkan strategi kompetisi, perusahaan mengaitkannya dengan pengembangan system informasi. Pengembangan sistem informasi strategis dimaksudkan untuk dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai tekanan dalam persaingan bisnis. Pengembangan system informasi oleh perusahaan selalu mengacu pada strategi kompetitif perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas informasi, kontrol kinerja perusahaan dan  peningkatan layanan untuk memenangkan persaingan.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pengembangan system informasi yang disesuaikan dengan strategi kompetitif yang dapat digunakan perusahaan yaitu cost leadership strategy, differentiation strategy, innovation strategy, growth strategy, atau strategi lainnya. Ketika mengembangkan system informasi, perusahaan harus menghubungkannya dengan strategi bisnis yang telah ditetapkan perusahaan, apakah menggunakan salah satu dari strategi bisnis yang disebutkan sebelumnya.

Customer Relationship Management (CRM) merupakan salah satu strategi bisnis yang dapat dikembangkan oleh perusahaan berkaitan dengan pengembangan system informasi. Customer Relationship Management (CRM) adalah sistem manajemen berbasis komputer atau sebuah sistem informasi terintegrasi yang menangani hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan di mata para pelanggannya. CRM ini menyangkut semua aspek yang berhubungan dengan calon pelanggan dan pelanggan saat ini. CRM merupakan bagian dari Sistem Informasi Perusahaan (Enterprise Information System), yang menggunakan teknologi informasi untuk menghasilkan perusahaan yang berkompeten, terpercaya dan terintegrasi dengan pelanggan berdasarkan sisi pelanggan sehingga semua proses dan interaksi dengan pelanggan membantu terpeliharanya dan meningkatkan hubungan relasi yang menguntungkan.

Untuk pengembangan system informasi, ada tiga jenis aplikasi CRM yang dapat digunakan perusahaan yaitu operational CRM (pengelolahan secara otomatis dari proses bisnis secara terintegrasi dan horizontal termasuk customer touch-points dan integrasi front-back office); analytical CRM (analisis data yang diperoleh dari operational CRM dengan memanfaatkan tools dan software untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai perilaku pelanggan atau kelompok pelanggan); dan collaborative CRM (seperangkat aplikasi dari pelayanan kolaborasi termasuk e-mail, e-communities, publikasi personal dan alat lainnya yang sejenis yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi antara pelanggan dengan perusahaan (Reynald, 2010).

Dalam mengembangkan system informasi, perusahaan juga harus mempertimbangkan model pengambilan keputusan yang diterapkan oleh perusahaan. Keputusan oleh manajemen dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis yaitu keputusan tidak terstruktur (non programmed decision), keputusan setengah terstruktur (semi programmed decision), dan keputusan terstruktur (programmed decision). Untuk mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen dibutuhkan informasi yang berguna, dengan tipe informasi yang berbeda untuk setiap tingkatan manajemen. Manajemen tingkat bawah, tipe informasinya lebih rinci dan detil karena informasi tersebut digunakan untuk pengendalian operasi. Sedangkan untuk manajemen yang lebih tinggi tingkatannya, tipe informasinya semakin tersaring atau lebih ringkas. Pengembangan system informasi haruslah menyesuaikan dengan jenis keputusan dan tipe informasi yang dibutuhkan oleh setiap level manajemen. Karena itu, perlu dikembangkan system pendukung pengambilan keputusan (Decision Support System) untuk membantu para manajer pengambil keputusan dalam memecahkan masalah (McLeod, 2011).

  1. V.    IMPLIKASI ETIS DAN SOSIAL DARI IMPLEMENTASI TI

Penerapan teknologi informasi dalam dunia bisnis tidak dapat dielakkan lagi. Organisasi bisnis tanpa teknologi informasi tidak akan dapat berkembang sepesat yang menggunakan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi bahkan menjadi keunggulan kompetitif bagi organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari pun, manusia seolah tak dapat hidup tanpa teknologi informasi. Banyak orang yang kemudian merasa tidak dapat bersaing jika tidak menggunakan teknologi informasi. Karena itu kemudian banyak organisasi maupun individu yang menyalahgunakan teknologi informasi sehingga pelaksanaan fungsi organisasi menjadi tidak etis karena tidak memperhatikan etika penggunaan teknologi informasi. Hal ini menyebabkan banyaknya kejahatan dalam penggunaan teknologi informasi. Kita bisa lihat yang terjadi di Indonesia, pada tahun 2002, kejahatan umum dan terorisme yang difasilitasi oleh teknologi informasi sebanyak 159 kasus yang dilaporkan, 15 di antaranya kini tengah dalam proses pengadilan dan 2 sudah ada di pengadilan. Hal ini menunjukkan bahwa begitu banyak masalah yang diakibatkan dari penggunaan teknologi informasi yang tidak sesuai dengan etika.

Etika merupakan sekumpulan kepercayaan, standar atau pemikiran  yang dimiliki oleh indvidu, kelompok atau  masyarakat yang bertindak sebagai pengarah tindakan baik atau benar.  Setiap organisasi maupun individu bertangung jawab kepada masyarakatnya atas perilaku mereka khususnya dalam penggunaan teknologi informasi.

Etika dalam penggunaan teknologi informasi sedang mendapat perhatian yang lebih besar daripada sebelumnya. Masyarakat menyadari bahwa penggunaan teknologi informasi dapat menganggu hak privasi individual atau organisasi. Salah satu contoh yang mengganggu hak privasi organisasi adalah adanya pembajakan perangkat lunak yang menggerogoti pendapatan penjual perangkat lunak hingga milyaran rupiah. Contoh lain adalah melalui pemanfaatan teknologi komputer, seseorang dapat mengakses data dan informasi dengan cara yang tidak sah. Selain itu, ada juga yang memanfaatkan teknologi informasi untuk mengganggu orang lain demi kesenangan pribadi atau demi tindakan kriminal. Seperti pencurian dan penggunaan account internet milik orang lain, membajak situs web dan mengubah halaman web dilakukan.

Namun tidak semua penggunaan teknologi informasi memberi implikasi yang tidak etis, banyak juga yang berimplikasi secara positif misalnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan penggunaan teknologi informasi, dapat dilihat betapa besar penetrasi komputer dalam kehidupan sehari-hari dan berdampak pada penggunaan broadband. Laporan Bank Dunia mengenai dampak broadband terhadap 120 negara mengatakan, setiap kenaikan penetrasi broadband sebesar 10%, akan meningkatkan GDP sebesar 1,21 % di negara maju dan 1,38% di negara berkembang. Untuk setiap 1% kenaikan penetrasi broadband, lapangan kerja bertambah 0,2%-0,3%. Broadband mendorong kenaikan sektor manufaktur 10% dan sektor jasa 5% dalam hal produktivitas tenaga kerja (http://www.indonesiafinancetoday.com)

Selain itu, implikasi sosial yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi informasi adalah bahwa manusia tidak lagi melakukan hubungan tatap muka dan bersalaman, bahkan dapat melakukan hubungan yang sangat akrab tanpa pernah bertemu langsung. Implikasi social lainnya adalah bahwa dalam cyberspace, manusia tak perlu lagi menunjukkan identitas diri, wajah, ukuran tubuh, tatapan, nada bicara atau airmata. Tetapi cukup dengan membubuhkan tanda-tanda itu lewat lambang-lambang yang disepakati dalam dunia maya. Manusia melakukan interaksi semakin lama semakin tidak pribadi sifatnya. Tanggung jawab juga mulai luntur karena interaksi tidak perlu dengan kontak secara langsung. Bahkan dalam sebuah milis-pun, ada banyak orang yang tidak mau menunjukkan identitasnya sama sekali dengan alasan tidak ingin merusak budaya komunikasi di alam maya itu. Hal ini dapat dianggap implikasi positif ataupun negative, tergantung dari sudut pandang masing-masing.

Implikasi etis dan social lainnya dari penggunaan teknologi informasi adalah manusia dapat berhubungan langsung dengan banyak sumber informasi, searching ilmu pengetahuan mutakhir atau data yang urgent sekali. Bahkan penggunaan teknologi informasi sangat membantu dunia bisnis dalam menjalankan proses bisnisnya.

Terlepas dari implikasi positif maupun negative, penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari harus didukung dengan adanya payung hokum untuk melindungi organisasi maupun masyarakat dari kejahatan teknologi informasi. Indonesia sudah mulai berinisiasi untuk membuat “cyberlaw” sejak tahun 1999.

VI. KESIMPULAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa suka atau tidak suka, kehidupan individu maupun organisasi sangat bergantung pada teknologi informasi yang memudahkan kita dalam memperoleh informasi. Namun demikian, teknologi inforamsi saja tidak cukup, dalam kehidupan organisasi informasi harus dikelola dengan baik. Karena itu dibutuhkan manajemen system informasi untuk memudahkan para manajemen dalam memperoleh informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.

VII. DAFTAR PUSTAKA

  • Amsyah, Z. (2005). Manajemen Sistem Informasi. Jakarta: GramediaPustaka Utama.
  • Husein, M.F. dan Wibowo, A. (2002). Sistem Informasi Manajemen. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
  • McLeod, R. dan Schell, G. (2011). Sistem Informasi Manajemen. Edisi 9. Jakarta: PT Indeks.
  • Sutabri, T. (2005), Sistem Informasi Manajemen, Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.
  • Reynald Dwi Kristianto. (2010). Customer Relationship Management, Teknik Informatika UPN “Veteran” Yogyakarta.
  • (http://www.indonesiafinancetoday.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s