Galeri

Kontribusi Ilmu Administrasi dalam Menghadapi Problem Krusial Aktifitas Bisnis di Era Digital

Oleh: Nur Alam La Nafie

  1. Pendahuluan

Saat ini kita berada dalam era digital dimana TIK atau  teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology, atau ICT) semakin memainkan peran kunci dalam kehidupan manusia termasuk dalam kehidupan bisnis. Penerapan TIK dalam kegiatan bisnis semakin meningkat khususnya dalam penggunaan internet dan web-based network, untuk menyediakan pelayanan antar perusahaan, perusahaan dengan konsumennya, serta perusahaan dengan pemerintah ataupun lembaga non-pemerintah. Dengan kemajuan TIK, organisasi bisnis menghadapi banyak tantangan yaitu dari aspek manajemen, karyawan, dan lingkungan organisasi. Tantangan-tantangan ini berupa bagaimana komitmen pimpinan dalam memfasilitasi ketersediaan peralatan TIK, dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi karyawan untuk bisa belajar mengembangkan kemampuannya atau penguasaannya menggunakan TIK, dan bagaimana memimpin organisasi bisnis agar dapat terus bersaing secara global sehingga dapat memenangkan persaingan pasar.

Untuk menjawab tantangan-tantangan di atas, paper ini akan membahas bagaimana ilmu administrasi memberikan kontribusinya dalam menyelesaikan masalah bisnis di era digital. Pembahasan akan diawali dengan penjelasan mengenai perkembangan ilmu administrasi yang seiring dengan perkembangan teori organisasi, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai bentuk aktifitas bisnis dalam era digital, dan terakhir akan dijelaskan bagaimana ilmu administrasi memberikan kontribusi dalam menghadapi masalah krusial aktifitas bisnis di era digital.

Ilmu Administrasi

Ilmu administrasi bisnis bukan merupakan suatu bidang yang baru, melainkan telah dikenal sejak lama. Namun demikian, posisi ilmu administrasi bisnis dewasa ini kerap menjadi rancu, seolah-olah terjadi over-lapping dengan ilmu manajemen padahal keduanya berbeda satu dengan lainnya. pada hakekatnya keduanya adalah bidang yang terpisah dan memiliki fokus penerapan yang berbeda pula pada level praktek. Kedua hal ini diperlukan dalam mengelola organisasi, khususnya di bidang bisnis, karena masing-masing menyumbangkan peran tersendiri. Namun, sekali lagi, administrasi dan manajemen adalah dua hal yang berbeda. Untuk organisasi bisnis kita dapat menerapkan pembedaan berikut ini.

Administrasi dapat diartikan sebagai cara atau sarana untuk menggerakkan organisasi dengan tugas mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Kusdi, 2009). Dari pengertian ini terlihat adanya kesamaan dengan pengertian manajemen yaitu sebagai sarana bagi organisasi untuk dapat mencapai tujuan melalui kerjasama yang efisien dan efektif.

Menurut Hodgkinson dalam Kusdi (2009) bahwa administrasi adalah aspek-aspek yang lebih banyak berurusan dengan formulasi tujuan, masalah terkait nilai, dan komponen manusia dalam organisasi, sementara manajemen diartikan sebagai aspek-aspek yang lebih rutin, definitive, terprogram, dan cenderung pada metode kuantitatif. Dari pengertian ini dapat dilihat bahwa meskipun tugasnya sama, administrasi dan manajemen memiliki posisi yang berbeda yaitu administrasi berfokus pada penetapan arah organisasi, sementara manajemen berfokus pada bagaimana cara mencapai arah yang telah ditentukan tersebut. Pendapat lain dari Barnard dalam Kusdi (2009) adalah administrasi berfokus pada  pengambilan keputusan, memelihara system komunikasi dalam organisasi dan mengontrol organisasi. Oleh karena itu, seorang administrator bisnis perlu menguasai hal-hal teknis yang diperlukan untuk menjalankan organisasi bisnis yang dalam hal ini adalah ilmu manajemen bisnis. Namun yang lebih mendasar, bahwa pengelolaan bisnis di tangan seorang administrator membutuhkan pula pemahaman terhadap kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan penentuan strategi organisasi.

Jika mencermati ulasan di atas, dapat diketahui bahwa administrasi mencakup leadership dan management. Artinya dalam pengelolaan organisasi bisnis, diperlukan kepemimpinan yang strategis atau strategic leadership karena untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi dalam memenangkan persaingan. Dalam menghadapi era digital, setiap organisasi bisnis berusaha untuk mencapai sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing secara berkelanjutan. Salah satu caranya adalah menerapkan Strategic Leadership (SM), Learning Organization (LO) dan Knowldege Management (KM).

Penerapan strategic leadership merupakan sumber keunggulan kompetitif. Strategic leadership didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengantisipasi, dan memelihara fleksibilitas, berpikir strategis, dan bekerja sama dengan orang lain untuk menginisiasi perubahan yang akan menghasilkan masa depan yang cerah bagi organisasi (Ireland dan Hitt, 2005). Sebagai organisasi menghadapi tantangan yang signifikan termasuk globalisasi, kemajuan teknologi, laju perubahan, dan volatilitas lingkungan eksternal, kepemimpinan mereka harus menjadi lebih strategis mahir dalam rangka untuk tetap kompetitif.

Penerapan strategic leadership akan mengarahkan organisasi bisnis menjadi

suatu organisasi pembelajar atau Learning Organization (LO) karena, dengan ini organisasi akan melakukan proses pembelajaran untuk mengembangkan terus kemampuan organisasi dan inovasi yang dibutuhkan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Untuk menjadi Learning Organization (LO) membutuhkan Knowledge Management (KM), yang pada gilirannya tergantung dari suatu LO. Hal ini seperti ayam dan telur. Tidak mungkin untuk menjawab pertanyaan yang datang pertama, dan mereka berdua tergantung pada satu sama lain untuk sukses. Sastra menekankan LO atau KM, meskipun fakta bahwa mereka bergantung. Sebuah organisasi yang ingin menjadi Learning Organization harus memperhatikan keduanya, dan karena itu harus ada pergeseran penekanan untuk LO dan KM.

Aktivitas Bisnis dalam Era Digital

Era digital merupakan masa dimana pengaruh computer dan data sangat kuat pengaruhnya terhadap masyarakat khususnya masyarakat bisnis. Penerapan TIK pada bidang bisnis telah banyak digunakan untuk mendukung proses bisnis yang terjadi pada perusahaan, baik bidang ekonomi maupun perbankan. Dengan hadirnya aplikasi-aplikasi dan layanan e-bussiness, e-commerce, e-banking dan lain-lain. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku bisnis merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing aplikasi dan layanan yang banyak digunakan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

E-business adalah setiap bisnis yang dijalankan dengan menggunakan jaringan elektronik (internet dan jaringan computer) untuk menyederhanakan proses bisnis dengan tujuan untuk mencapai biaya ekonomis dan peningkatan pendapatan (Burinskienė dan Burinskas, 2010). E-business juga dapat didefinisikan sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam menunjang semua aktifitas bisnis. Salah satu aktifitas bisnis yang esensial dapat dilihat dalam kegiatan perdagangan, dimana pelibatan pertukaran produk dan jasa antara sesama perusahaan dan antara perusahaan dan konsumennya (Burinskienė dan Burinskas, 2010).

E-commerce masih dalam perdebatan pendapat antara konsultan dan akademisi tentang arti dan keterbatasannya. Laudon dan Traver dalam Al-rfou’ dan Abu Aleqah (2010) mendefinisikan e-commerce sebagai penggunaan internet dan web untuk transaksi bisnis. E-commerce berfokus pada transaksi perdagangan antara perusahaan dan individu secara digital. Setiap komponen dari definisi e-commerce adalah sangat penting. Semua transaksi yang dilakukan secara digital dilakukan dengan menggunakan teknologi digital. Awad dalam Al-rfou’ dan Abu Aleqah (2010) mendefinisikan e-commerce dari sudut pandang komunikasi sebagai suatu proses membeli dan menjual barang, jasa, dan informasi melalui jaringan: internet, intranet dan extranet. Beberapa peneliti seperti Dedhia (2001), Lawrence, et al. (2000), Riggins & Rhee (1998), dan Schneider & Perry (2000) dalam Al-rfou’ dan Abu Aleqah (2010) membagi e-commerce kedalam beberapa bentuk e-commerce dan dua bentuk e-commerce yang paling penting adalah 1) from Business to Business (B2B), dan, 2) from Business to Consumer (B2C). Kedua bentuk merupakan konsep e-commerce yang digunakan saat ini oleh pengguna internet.

Penerapan e-commerce  dalam suatu organisasi bisnis tentunya memberikan keuntungan bagi pedagang maupun konsumen. Keuntungan perdagangan elektronik antara lain: 1) perusahaan dapat menjangkau pasar lebih luas, karena pembeli yang mengakses internet tidak dibatasi tempat dan waktu; 2) perusahaan tidak perlu membuka cabang distribusi; 3) pengeluaran lebih sedikit, karena pegawai tidak banyak; 4) harga barang lebih murah, karena biaya operasionalnya murah. Sementara itu, keuntungan yang diperoleh konsumen antara lain: a) konsumen tidak perlu ke toko untuk mendapat barang; b) pembeli dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan; c) konsumen dapat membandingkan harga dari pemasang iklan lain di internet; d) konsumen dapat membeli barang yang di dalam negeri tidak ada; dan e) harga barang lebih murah.

E-banking dapat diartikan sebagai penyediaan informasi mengenai bank dan produknya melalui halaman website di internet (Ibrahim et al, 2006 dalam Safeena dan Abdullah, 2010). E-banking merupakan jenis pelayanan dimana nasabah bank  informasi saldo, informasi hasil transfer uang, pembayaran rekening, dll melalui jaringan telekomunikasi tanpa meninggalkan rumah atau kantor (Aladwani, 2001; Daniel, 1999; Mols, 1998; Sathye, 1999 dalam Safeena dan Abdullah, 2010). E-banking yang berupa internet banking dan sms banking memberikan keuntukan bagi nasabah antara lain menghemat waktu, karena tidak perlu datang ke bank untuk melakukan transaksi, menghemat biaya, karena transportasi menuju ke bank dapat dihilangkan, dan lebih cepat, karena tidak perlu menunggu antrean yang banyak.

Sekarang ini, hampir semua bank melakukan bisnisnya dengan menggunakan e-banking. Salah satu contohnya adalah ketika seorang nasabah ingin melakukan pembayaran rekening atau pembelian pulsa telepon seluler, semuanya dapat dilakukan di ATM ataupun di rumah dengan menggunakan computer dan jaringan internet. Contoh lain adalah            adanya interkoneksi ATM BCA dan ATM Bank Mandiri melalui perusahaan switching Atma Prima yang mulai beroperasi tanggal 16 Januari 2012 (www.kompas.com , 16 Januari 2012). Interkoneksi ATM Bank BCA dan ATM Bank Mandiri ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang cepat dan efisien bagi nasabah kedua bank tersebut. Dengan demikian nasabah Bank BCA dapat bertransaksi di ATM Bank Mandiri dan begitu pula sebaliknya.

Kontribusi Ilmu Administrasi Dalam Menghadapi Problem Krusial Aktivitas Bisnis di Era Digital

Berada dalam abad 21 yang juga sering disebut sebagai era digital, setiap organisasi bisnis harus mampu menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Apabila diidentifikasi secara cermat, berdasarkan perkembangan keadaan, cukup banyak tantangan yang dihadapi organisasi bisnis, diantaranya adalah globalisasi ekonomi, penguasaan dan pemanfaatan IPTEK, paperless business, global competition, customer loyalty problem, knowledge based  economy, dan yang paling penting  kualitas kepemimpinan.

Dengan kemajuan TIK yang begitu cepat, membuat dunia bisnis berubah secara cepat pula dan tidak terduga. Dunia bisnis saat ini melakukan kegiatan bisnisnya dengan menggunakan kemajuan TIK. Aktifitas bisnis yang banyak diterapkan saat ini adalah bisnis berbasis elektronik atau e-business, perdagangan berbasis elektronik atau e-commerce, pemasaran berbasis eletronik atau e-marketing dan kegiatan perbankan berbasis elektronik atau e-banking.

Untuk menerapkan bentuk-bentuk aktifitas bisnis berbasis elektronik seperti disebutkan di atas, setiap organisasi bisnis harus mampu cepat membaca dan mengenali kondisi-kondisi baru dan segera beradaptasi terhadap perubahan itu. Organisasi bisnis harus melakukan proses pembelajaran demi beradaptasi dengan cepat dan tepat terhadap perubahan. Yang penting untuk dilakukan adalah menerapkan organisasi pembelajar atau “Learning Organization (LO)” dan Knowledge Management (KM).

Learning Organization (LO) adalah organisasi yang terlatih dalam menciptakan, meraih, dan mengubah pengetahuan/informasi dan memperbaiki sikapnya untuk mencerminkan pengetahuan dan pandangan baru. Learning Organization (LO) (LO) adalah organisasi yang terlatih dalam menciptakan, meraih, dan mengubah pengetahuan/informasi dan memperbaiki sikapnya untuk mencerminkan pengetahuan dan pandangan baru. Ada 3 gelombang mengenai pembelajaran (learning) yaitu (1) organisasi bisnis berkonsentrasi pada peningkatan proses kerja (improve work process), dalam fase ini, muncul konsep “kaizen”, TQM dan konsep-konsep lain yang berbasiskan pada mengatasi hambatan dan batasan. (2) fase kedua memfokuskan pada peningkatan mengenai cara bekerja (improve how to work), fase ini berkutat pada improvisasi cara berpikir dan pembelajaran mengenai masalah-masalah sistem yang dinamis, kompleks dan mengandung konflik. (3) konsep pembelajaran benar-benar tertanam dalam organisasi sebagai cara pandang dan berpikir para pimpinan dan pekerja.

Dalam buku “The Fifth Discipline” karangan Peter Senge (1990), dikatakan bahwa ada lima disiplin (pilar) untuk membuat organisasi menjadi Learning Organization (LO) atau organisasi pembelajar yaitu (1) systems thinking – cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dari sistem. (2) personal mastery – belajar untuk memperluas kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan dan menciptakan organisasi yang menumbuhkan seluruh anggotanya untuk mengembangkan diri mereka menuju pencapaian sasaran dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih. (3) mental models – proses bercermin, sinambung memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar dan melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan tindakan kita. (4) shared vision – membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan yang akan diciptakan, prinsip dan praktek yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tsb. (5) team learning – mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berpikir (thinking skills), sehingga suatu kelompok dapat secara sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.

Dalam menerapkan Learning Organization (LO), organisasi bisnis sering mengalami hambatan fairness dalam system penggajian. Hal ini dianggap beban bagi perusahaan yang pada akhirnya organisasi bisnis tidak mendapatkan komitmen yang tinggi dari karyawannya jika jenjang penggajian sangat jauh sekali, di mana perbedaan gaji, fasilitas, dan “penghasilan” yang sangat jauh sekali di bawah staffnya. Hambatan lain yang sering dialami dalam penerapan Learning Organization (LO) adalah keterbatasan dalam memperoleh informasi. Sehingga organisasi bisnis tidak bisa terlalu mengharapkan team learning bisa share pengetahuan jika informasi akan pengetahuan sangat minim, mahal dan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Jika saja informasi akan pengetahuan mudah diperoleh, maka bisa digunakan untuk mentransfer pengetahuan ke yang lainnya.

Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut di atas, organisasi bisnis harus mampu membangun suatu sistem bagi terwujudnya Learning Organization (LO). Untuk membangun  Learning Organization (LO), organisasi bisnis harus mengawalinya dengan membangun Knowldege Management (KM) system. Knowldege Management (KM) adalah suatu pengelolaan pengetahuan secara teratur yang menaikan produksi pengetahuan manusia dan yang berintegrasi kedalam sebuah organisasi. Knowledge (pengetahuan) itu sendiri adalah suatu pengesahan (validasi) program menjadi tindakan. Karena itu, pengetahuan tidak akan menjadi sebuah pengetahuan dan milik seseorang kalau tidak menjadi suatu dorongan untuk bertindak. Secara deskriptif bisa dinyatakan bahwa Knowldege Management (KM) merupakan suatu paradigma pengelolaan informasi yang berasal dari pemikiran bahwa pengetahuan yang murni sebenarnya tertanam dalam benak dan pikiran setiap manusia. Pengetahuan ini perlu dibangun suatu mekanisme pengelolaan (to manage) penyebaran (to share) informasi dan pengalaman dari sumber daya manusia yang ada agar terjadi peningkatan pengetahuan dari masing-masing pelaku kegiatan di dalam suatu organisasi bisnis. Knowldege Management (KM) juga dapat diartikan sebagai sebuah tindakan sistematis untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan mendistribusikan segenap jejak pengetahuan yang relevan kepada setiap anggota organisasi dengan tujuan meningkatkan daya saing organisasi. Secara sederhana, Uriarte (2008) mendefinisikan Knowldege Management (KM) sebagai suatu proses konversi tacit knowledge menjadi explicit knowledge yang kemudian dibagikan kepada anggota dalam sebuah organisasi. Lebih lanjut, Uriarte menjelaskan bahwa

Knowldege Management (KM) merupakan proses suatu organisasi menciptakan nilai yang bersumber dari asset organisasi yang berbasis pada pengetahuan dan intelektual.

Untuk mengembangkan Knowldege Management (KM) dalam organisasi bisnis, beberapa langkah perlu diperhatikan. Langkah yang pertama adalah membangun portal pengetahuan secara internal (intranet knowledge portal). Dalam portal yang bisa diakses oleh setiap anggota perusahaan inilah, disusun beragam folder dan menu pengetahuan yang relevan. Isinya bisa menyangkut artikel-artikel tentang manajemen praktis; paper mengenai dinamika industri bisnis yang digeluti; materi-materi pelatihan internal; ataupun juga berupa paper pengalaman dari karyawan perusahaan tersebut dalam mengerjakan sebuah projek tertentu. Langkah praktis kedua adalah dengan mentradisikan semacam pertemuan Knowledge Sharing Session, selama sekitar 2 jam, setidaknya setiap bulan sekali. Sharing session ini bisa dilakukan secara corporate-wide, atau dilakukan per departemen/divisi. Bisa dilakukan dengan mengundang narasumber dari luar atau internal. Materinya bisa berupa pengetahuan manajemen praktis ataupun pengalaman karyawan dalam mengerjakan sebuah tugas/projek. Hasil sharing session ini kemudian juga bisa di-upload ke Portal Pengetahuan, sehingga setiap karyawan bisa mengakses materinya. Knowledge sharing session ini akan sangat bermanfaat dalam menggali dan mendistribusikan potensi pengetahuan yang ada dalam diri setiap karyawan perusahaan. Langkah praktis ketiga adalah dengan menerbitkan semacam Online Knowledge Buletin. Buletin ini dapat diterbitkan sebulan atau dua bulan sekali, dan berisikan update pengetahuan-pengetahuan mutakhir mengenai manajemen/bisnis ataupun mengenai dinamika industri yang ditekuni oleh perusahaan tersebut. Buletin ini sebaiknya didistribusikan melalui multimedia email. Melalui knowledge buletin ini, pengetahuan setiap karyawan bisa terus disegarkan dan ter-upate; jadi tidak lapuk ketinggalan zaman.

Penerapan Knowldege Management (KM) dalam organisasi bisnis memberikan keuntungan bagi organisasi yaitu (1) adanya informasi pengetahuan yang lebih transparan (2) terdapatnya proses penciptaan nilai tambah berbasis pengetahuan (3) meningkatkan motivasi staff (4) meningkatkan daya saing, serta (5) keamanan dan ketahanan organisasi untuk jangka panjang (Bornemann et al , 2003),

Uraian di atas menggambarkan bahwa syarat fundamental dalam membangun Learning Organization (LO) adalah kemauan berbagi pengetahuan atau knowledge sharing yang dapat diwujudkan dengan adanya suatu system Knowldege Management (KM). Namun demikian, ada hal yang tidak kalah pentingnya dari membangun suatu system Knowldege Management (KM) dalam Learning Organization (LO) yaitu diperlukan sosok pemimpin yang baik atau visionary leader. Learning Organization (LO) dan Knowldege Management (KM) tidak akan terwujud dengan baik jika organisasi bisnis tidak memiliki pemimpin yang baik atau visionary leader.

Visionary leader adalah pemimpin yang memiliki visi yang jelas dan mampu mengejawantahkan visi itu kedalam aksi yang terarah yang dilakukan bersama-sama dengan para anggota perusahaan. Ahmad and Chopra (2004) dalam Dwivedi (2006) mengatakan bahwa visionary leader adalah pemimpin yang mengekspresikan dan menyebarkan tujuan organisasi melalui vision statemen yang sederhana dan mudah dimengerti oleh anggota organisasinya. Senge (1991) mengungkapkan bahwa salah satu disiplin yang harus dilakukan dalam rangka mewujudkan Learning Organization (LO) adalah membangun visi bersama, shared vision, yakni harapan bersama tentang masa depan yang ingin dicapai organisasi. Sebuah visi benar-benar merupakan visi bersama apabila setiap orang memiliki gambaran yang sama dan setiap orang merasa memiliki komitmen untuk mencapainya. Visi merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi.

Selanjutnya, Nanus (1995) mengatakan bahwa seorang visionary leader sejatinya memiliki empat kompetensi. (1) Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.” (2) Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan). (3) Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision). (4) Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan kreatifitas untuk mengantisipasi masa depan. Kreatifits ini merupakan sebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna mempersiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa suatu organisasi bisnis dapat mengantisipasi perubahan secara cepat dan tepat ketika didukung oleh pemimpin (visionary leader) yang memiliki visi yang jelas tentang arah pengembangan organisasi bisnisnya. Visionary leadership menjadi ujung tombak bagi keberhasilan organisasi bisnis mencapai sustainable competitive advantage atau keunggulan komparatif berkelanjutan. Dengan visionary leadership, organisasi bisnis dapat mewujudkan terciptanya budaya sharing knowledge dalam Knowldege Management (KM) system sehingga mendukung keberhasilan Learning Organization (LO). Dengan demikian, tantangan ataupun masalah krusial aktifitas bisnis dalam era digital dapat diatasi dengan baik karena adanya kontribusi dari ilmu administrasi yang mengajarkan bagaimana organisasi menerapkan strategic dan visionary leadership untuk mewujudkan learning organization melalui knowledge management untuk mencapai sustainable competitive advantage.

Kesimpulan

Kemajuan TIK memberikan dampak terhadap terjadinya perubahan dunia bisnis secara cepat dan tidak terduga yang akhirnya mengakibatkan organisasi bisnis harus mampu membaca dan mengenali kondisi-kondisi baru dan segera beradaptasi terhadap perubahan. Kunci utama agar selalu beradaptai dengan cepat dan tepat adalah menerapkan organisasi pembelajar atau Learning Organization. Penerapan Learning Organization melalui Knowledge Management dapat dilaksanakan dengan mudah jika organisasi bisnis didukung oleh Strategic dan Visionary Leader.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-rfou’, A.N. dan Abu Aleqah, K.M. 2010. The Effect of Using E-Commerce on Customers Services Case Study Jordanian Electricity Distribution Companies. International Management Review Vol. 6 No. 2.
  2. Bornemann, Manfred et al. 2003. An Illustrated Guide to Knowldege Management (KM). Wissenmanagement Forum. Graz. Austria.
  3. Dwivedi, R.S. 2006. Visionary Leadership: A Case Study of Dr. A.P.J. Abdul Kalam. VISION – The Journal of Business Perspective, l Vol. 10 l No. 3.
  4. Ireland, R.D. and Hitt, M.A. 2005. Achieving and Maintaining Strategic Competitiveness in the 21st century: The role of Strategic leadership. Academy of Management Executive, Vol. 19, No. 4.
  5. Kusdi. 2009. “Teori Organisasi dan Administrasi”. Jakarta: Salemba Humanika.
  6. Nanus, B. 1995, Visionary Leadership: Creating a Compelling Sense of Direction or Your Organization, River St., Hoboken, NJ, Wiley, John & Sons Ltd.
  7. Priambada D. Boy. 2010. Implementasi Knowldege Management (KM) System di Perusahaan, Program Pascasarjana Ilmu Komputer, IPB, Bogor.
  8. 8.        Safeena, R., Abdullah, Date, H. 2010. Customer Perspectives on E-business Value: Case Study on Internet Banking. Journal of Internet Banking and Commerce, vol. 15, no.1.
  9. Senge, Peter, M. 1991, The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization (LO), New York, Currency Doubleday, pp. 150-53.
  10. Uriarte A. Filemon. 2008. Introduction to Knowldege Management (KM), ASEAN Foundation, Jakarta, Indonesia.
  11. www.Kompas.com. Diakses pada Senin, 16 Januari 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s